Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 April 2013

Kisah Si Putri Tidur


Pada suatu hari, adalah sebuah kerajaan besar di kaki gunung. Ratu mereka cantik, Raja mereka baik hati. Istana Raja adalah tempat teraman di negeri itu.

Saat itu, sang Ratu sedang memiliki seorang bayi yang jelita. Ia mengundang ke-7 penyihir di negeri itu untuk memberkati Sang Putri. Penyihir pertama memberikan kelembutan hati. Penyihir kedua memberikan kekuatan jiwa. Penyihir ketiga memberikan kebijaksanaan. Penyihir keempat memberikan kecantikan. Penyihir kelima memberikan kecerdasan. Penyihir keenam memberikan kepedulian. Penyihir ketujuh memberikan hati yang kuat.

Namun ternyata, ada penyihir ke-8 yang tidak diundang untuk memberkati Sang Putri. Ia memang seorang penyihir jahat yang suka menyakiti binatang. Maka dari itu sang Ratu enggan untuk mengundangnya.

Penyihir ke-8 itu memberikan kutukan kepada Sang Putri: "Ketika kamu berumur 17 tahun, kamu akan tertusuk ujung jarum pintal, dan kamu akan mati."

Penyihir yang tidak bertanggung jawab itu pun pergi begitu saja dari kerajaan itu dan tidak kembali lagi...

Penyihir ke-7 yang memberikan Sang Putri hati yang kuat pun kasihan melihat bayi kecil yang jelita itu. Mengapa ia begitu berharga, tetapi umurnya amat pendek?

Maka dari itu, Penyihir ke-7 memberkati si Putri: "Kamu tidak akan mati pada umur 17 tahun, tapi akan tidur selamanya.... Jangan takut, nak, suatu hari kamu akan terbangun oleh seorang Pangeran berkuda putih. Raja dan Ratu, dan seluruh staf istana, akan ikut tidur bersamamu."

Lalu pulanglah ketujuh penyihir itu, sambil mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada Raja dan Ratu.

Ketika Sang Putri berumur 16 tahun, seluruh jarum di seluruh kerajaan diperintahkan untuk dimusnahkan. Semua itu demi hanya untuk Sang Putri yang telah diberi kutukan jahat. Hanya satu alat pemintal yang tertinggal, itu pun letaknya di menara paling tinggi di Istana Raja.

Sang Putri tidak tahu sama sekali akan kutukan jahat yang ia derita, dan tidak tahu-menahu bahwa seluruh jarum di Kerajaan telah musnah kecuali satu. Kecuali yang terletak di menara paling tinggi di Istana Raja.

Dan di suatu pagi hari di ulang tahunnya yang ketujuh belas, Sang Putri terbangun terlalu pagi, dan memutuskan untuk jalan-jalan di dalam istana untuk menyegarkan pikiran.

Tanpa sadar, tahu-tahu dia sudah ada di menara paling tinggi di Istana Raja. Ia terpesona melihat matahari terbit dari atas menara.

Matahari menyinari seluruh ruangan di dalam menara itu dengan indahnya. Sang Putri pun berputar dan melihat di belakangnya ada jarum dan benang.

Selama ini Sang Putri hanya mengetahui bahwa jarum dan benang adalah alat-alat untuk membetulkan baju. Ia membacanya di dalam Buku Petunjuk Dasar-dasar Menjahit.



Sang Putri pun ingin mencoba menjahit, lalu ia mengambil jarum. Karena tidak hati-hati, tertusuklah ia...

Kutukan itu berhasil. Sang Putri langsung tertidur begitu darah pertama menetes dari jarinya. Segera setelah itu, seluruh orang yang ada di Istana Raja pun ikut tertidur.

Sang Putri dan seluruh istana tertidur nyenyak selama 66 tahun. Terbuai dalam mimpi-mimpi yang panjang. Tanpa sadar Istana Raja telah dililiti oleh tanaman-tanaman perdu yang menancapkan akar-akarnya di dalam tembok-tembok istana. Istana Raja hampir roboh.

Adalah seorang Pangeran berkuda putih yang sedang berkelana mencari kejayaan. Ia dikawal oleh sekelompok pemuda gagah berani yang siap mati untuk melindunginya.

Sekelompok pria itu sampai pada Istana Raja yang selama 66 tahun tertidur. Merasa heran karena ada sesuatu yang begitu megah namun begitu sunyi, sang Pangeran pun mencoba untuk memasuki istana itu.

Ketika ia sampai di sebuah bilik tangga, ia berkata kepada para penjaganya, "Tunggu lah di sini. Aku hendak naik."

Ia pun naik ke menara tertinggi di istana itu. Ia adalah pria yang tangguh, maka ia pun tidak kenal lelah dalam mendaki tangga. Dan sampailah ia di dalam menara itu.

Ia melihat Putri yang cantik jelita... Terbuai oleh kecantikannya saat sedang tidur, Pangeran pun tanpa sadar mengecup kening Sang Putri.

Pada saat yang bersamaan, terbangunlah Putri dan seluruh staf Istana Raja. Tanaman perdu yang mengikat istana itu serta merta melepas jeratnya kepada istana.



Istana Raja pun kembali bangun, aman dan nyaman. Pangeran dan Putri pun turun dari menara tertinggi itu, disambut tepuk tangan dan sorak-sorai Raja, Ratu, dan seluruh staf Istana Raja.

Dan akhirnya, mereka hidup bahagia selama-lamanya. :)

drac o dorm iens nun quam titilan dus
Good morning! :D

Jumat, 07 Desember 2012

Putri Buta dan Pangeran Penyihir

Pada suatu masa, ketika penyihir-penyihir masih tinggal berdampingan bersama manusia biasa dengan damai, ketika masih ada ibu peri yang memberikan anugrah kepada setiap anak perempuan, lahirlah seorang putri di Kerajaan Northallington. Setelah lahir, seorang ibu peri bernama Felice memberikannya anugrah kepintaran dan kebijaksanaan seperti ayahnya. Ayah-ibunya, Raja dan Ratu Northallington amatlah sangat menyayangi putri mereka yang manis itu. Seluruh pegawai istana juga menyukai anak asuh mereka yang mulia itu, karena Putri Cordelia—begitulah putri itu dipanggil—tumbuh menjadi gadis yang periang dan baik hati. Kebaikan hati dan kerupawanan Sang Putri tersebar ke seluruh Kerajaan Northallington.

Sayang sekali, putri cantik ini buta. Ibu perinya tidak memiliki keterampilan sihir yang cukup untuk menyembuhkannya. Tabib-tabib dari seluruh penjuru kerajaan pun tidak dapat menyembuhkannya. Hanya para penyihir yang bisa. Namun, meskipun hidup berdampingan dengan baik, penyihir masih dianggap tabu untuk masuk ke dalam istana. Sehingga, tidak ada yang dapat menyembuhkan sang putri.

Tapi Putri Cordelia tidak pernah menyerah untuk terus belajar. Ia berusaha untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan pelayan. Seperti berpakaian, makan, dan berjalan-jalan di istana. Putri Cordelia juga rajin belajar meskipun tak bisa membaca. Gurunya, Tabib Reindra yang sudah tua, setiap hari membacakan buku-buku untuk Putri Cordelia. Buku apapun dibacakan oleh Tabib Reindra, baik buku cerita maupun buku pengetahuan. Putri Cordelia pun selalu mendengarkan dengan baik. Ia tumbuh menjadi seorang putri yang cantik, pintar, baik hati dan mandiri, meskipun ia memiliki keterbatasan.

Tujuh belas tahun berlalu, Putri Cordelia sudah harus mencari pasangan hidup sebelum dilantik menjadi ratu. Ayahnya sudah terlalu tua untuk memerintah sendiri Kerajaan Northallington. Maka dari itu, Keluarga Kerajaan Northallington mengumumkan diadakannya pesta dansa kerajaan untuk mencari seorang pangeran bagi sang putri.

“Ini lucu, Ayah,” kata Putri Cordelia ketika mendengar ide ayahnya sewaktu minum teh.
“Apa yang lucu, Putriku?” tanya Raja Northallington dengan agak bingung.
“Kalau aku tidak salah, waktu aku masih kecil, kita pernah mengahadiri pesta seperti ini yang diadakan oleh Kerajaan Southernlong untuk mencarikan putri bagi Paman… siapa? Aku lupa namanya.”
“Oh ya. Pamanmu Raja Edward ya? Betul, kita pernah menghadirinya. Aku kaget sekali bahwa ternyata putri cantik itu hanyalah seorang anak tiri yang dijadikan pelayan oleh ibunya. Untunglah gadis malang itu punya ibu peri yang memberinya sepatu kaca ajaib itu. Kau boleh mengundang mereka kalau kau mau, Sayangku.”
“Baiklah, aku akan mengundang mereka. Paman Edward dan Bibi Cinderella, ya? Ayah, bolehkah aku mengundang  Ibu Felice?”
“Aku sudah mengundangnya. Nanti ia akan membantumu memilih gaun,” kata Ratu Northallington, ibu Putri Cordelia.
“Ibu, bolehkah aku bertanya? Mengapa hanya seorang gadis yang dapat didatangi ibu peri?”
“Aku juga tidak tahu mengapa. Namun sepertinya sejak dulu juga tidak ada laki-laki yang didatangi ibu peri. Mungkin karena perempuan memiliki keterbatasan yang tidak dimiliki oleh laki-laki,” kata Ratu Northallington kepada putrinya itu.
“Jadi, pemuda-pemuda yang nanti datang nasibnya tidak ada yang seperti Bibi Cinderella, ya? Ah, tidak romantis!”
Sang ratu tertawa mendengar perkataan anak semata wayangnya itu. “Tentu tidak, Sayang. Ternyata kau masih agak kekanak-kanakan ya!” katanya sambil membelai pipi dan mencium kening anaknya yang manis dan hendak beranjak dewasa itu. “Tapi, Ibu yakin kau akan menemukan yang terbaik dalam hidupmu.”

Hari pesta dansa kerajaan sudah semakin dekat. Peri Felice dan Putri Cordelia mencoba gaun yang akan dipakai oleh Putri Cordelia.
“Bagaimana menurutmu, Cordelia. Warna gaun ini putih, sederhana untuk memancarkan kecantikanmu. Kau tampak cantik sekali di mataku,” kata Peri Felice.
“Terasa nyaman dan indah, Ibu. Aku menyukainya. Sayang, aku tidak dapat melihat diriku di dalam gaun ini,” kata Putri Cordelia.

Esok malamnya, pesta dansa dimulai. Seluruh undangan bertepuk tangan ketika Putri Cordelia turun tangga memasuki Aula Utama, didampingi ayah-ibunya. Seluruh undangan tampak terpesona dengan kecantikan sang putri. Putri Cordelia pun mulai berdansa dengan beberapa pemuda. Sayangnya, karena keterbatasannya, Putri Cordelia dan pasangan dansanya hanya bisa berputar kecil-kecil dan maju mundur dan harus hati-hati agar Putri Cordelia tidak tersandung, malah secara tidak sengaja, terkadang Putri Cordelia menginjak kaki pasangannya. Putri Cordelia merasa agak bersalah karena pemuda-pemuda yang berdansa dengannya dirasakan olehnya tidak nyaman ketika berdansa dengannya. Perasaan itu juga membuat Putri Cordelia malu dan agak malas berdansa. Maka, setelah lagu kelima usai, Putri Cordelia memilih untuk duduk di kursi tamu untuk mengobrol dengan Paman dan Bibinya sambil mendengarkan musik. Ketika Putri Cordelia sedang dituntun oleh seorang pelayannya, ada seorang pemuda yang menghampiri Sang Putri.
“Putri, maukah engkau berdansa dengan saya sebentar saja?” pinta pemuda itu.
Kalau saja aku dapat menolaknya… pikir Putri Cordelia agak kesal. Ia mengira para pemuda di situ sudah menyerah untuk berdansa dengan putri saat menonton pemuda lain yang berdansa sebelumnya.
“Baiklah, aku mau,” kata Putri Cordelia dengan agak terpaksa.

Si pelayan membimbing tangan Putri Cordelia ke dalam genggaman pemuda itu. Sungguh tidak disangka oleh Sang Putri, ketika tangannya digenggam oleh pemuda itu, Putri Cordelia merasakan getaran energi dari tangan hangat yang menggenggamnya. Seluruh saraf perabanya berkembang menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Udara yang tidak dapat diraba, sekarang dirasakan menggelitik kaki dan wajahnya. Ketika dibimbing oleh pemuda itu ke tengah aula, Putri Cordelia tidak tersandung-sandung lagi. Refleksnya menjadi jauh lebih baik, seakan ia mempunyai mata di kaki.

“Apa yang kau lakukan? Bagaimana…?!” seru Putri Cordelia kepada pemuda itu, bingung.
“Ssstt…. Tidak apa-apa, Putri. Aku tidak akan membiarkan anda celaka,” kata pemuda itu.

Musik mulai bermain, dan mereka mulai berdansa. Tidak seperti sebelumnya yang hanya maju-mundur, pemuda itu mengajak Putri Cordelia menari berputar-putar mengelilingi aula. Dan anehnya, Putri Cordelia sama sekali tidak tersandung! Dan lebih aneh lagi, Putri Cordelia merasa bahwa di sekitarnya tidak ada lagi pasangan-pasangan yang menari. Malahan, Putri Cordelia hanya mendengar seru-seruan kaget dari sekelilingnya setiap kali ia berputar. Ia tidak tahu, ketika ia berputar, gaun putihnya berubah-ubah warnanya menjadi indah sekali, yang membuat hadirin kaget karena ajaibnya. Namun, Putri Cordelia tidak menghiraukannya. Ia lebih peduli dengan dansa yang sedang dilakukannya. Baru kali ini lah ia merasa bebas untuk bergerak dengan keterbatasannya. Ia menguasai seluruh keseimbangan tubuhnya, sekarang. Tidak ada yang menghalanginya, bahkan kebutaannya.

“Ini menyenangkan sekali!” seru Putri Cordelia.
“Anda senang, Putri? Oh, syukurlah. Saya pikir anda ketakutan dengan menari berputar-putar seperti ini,” kata si pemuda.
“Takut? Ah, kau salah. Aku tidak pernah merasa sebebas ini dalam bergerak. Kata guruku, berputar-putar seperti ini dapat membuat pusing, tapi aku tidak merasakan apa-apa.”
“Anda beruntung karena mata anda tertutup. Saya sekarang merasa pusing.”
“Oh, kurangi saja putaran kita. Musik juga sudah mulai melambat.”

Mereka mulai berdansa pelan-pelan. Putri Cordelia senang sekali dengan dansanya kali ini. Yang ia tidak tahu, pemuda pasangannya sedang membuat keputusan yang lancang sekali terhadapnya.

“Siapakah engaku, yang telah memberikan kekuatan kepadaku? Katakanlah namamu.”
“Saya akan mengatakannya. Nanti. Ketika musik berhenti.”

Musik melambat, berhenti pelan-pelan, dan menghilang.
Dan ada yang menyalakan lampu tepat di depan mata Putri Cordelia.
Putri Cordelia merasa silau. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu melihat sekelilingnya.
Ia baru sadar. Ia bisa melihat.

Putri Cordelia memandang kepada orang di depannya, yang menggenggam tangannya, terlihat bahagia.
Meskipun baru bisa melihat, ia mengerti. Wajah bahagia di depannya amatlah tampan.
Dan di tangan kanan orang itu yang tidak menggenggam tangannya, tergenggam sebuah tongkat.

“Apa yang kau lakukan tadi! Beraninya kau masuk!” jerit sebuah suara yang dikenal Putri Cordelia sebagai suara ibunya.
“Tunggu. Cordelia, kau…?!” ada suara tertahan dari suara berat milik Raja Northallington.

Putri Cordelia tidak dapat menahan kebahagiaannya lagi. Ia berlari menuju singgasana kedua orangtuanya. Ia memeluk ayah-ibunya sambil berkata,
“Akhirnya aku bisa melihat kalian berdua! Betapa bahagianya aku! Oh, Ibu Felice!”
Putri Cordelia memeluk erat ibu perinya. Baru kali inilah ia melihat sosok seorang ibu peri. Sama seperti gambaran yang pernah dibacakan oleh Tabib Reindra. Ibu-ibu peri mempunyai wajah cantik yang awet muda. Mereka tidak menjejak tanah dan kuping mereka lancip. Karena hanya ada satu sosok seperti itu di dekat kedua orangtuanya, maka Putri Cordelia yakin sekali itulah Ibu Felice, ibu perinya.

“Ibu memberkatiku lagi, ya? Terima kasih!” Putri Cordelia mengira kesembuhannya dari berkat ibu perinya.
“Tidak anakku. Tentu kau tahu sihirku tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan panca indera. Dia lah yang menyihir matamu,” kata Ibu Felice sambil menunjuk laki-laki yang masih terpaku di tengah aula.

Semua hadirin memandang pemuda itu. Pemuda itu masih menggenggam tongkatnya. Memandang Putri Cordelia dan ibu perinya secara bergantian.
“Siapakah namamu, penyihir muda? Berlututlah dan sebutkan namamu,” perintah Raja Northallington.
Pemuda itu meletakkan tongkatnya di lantai sambil berlutut. Ia berkata,
“Nama saya Penyihir Daniel dari Hutan Utara. Maafkanlah kelancangan saya, baginda Raja dan Ratu. Saya sungguh patut dihukum. Saya akan mematahkan tongkat saya dan tidak akan menyihir lagi untuk selama-lamanya,” kata Penyihir Daniel pasrah.
“Apa yang kau pikirkan sewaktu hendak menyembuhkan putriku tanpa seizinku? Apa yang memotivasimu? Kau hendak mencelakai putriku?” seru Ratu Northallington dengan marah.
“Oh Baginda Ratu, tak ‘kan pernah sanggup diri hamba memikirkan hal buruk tentang Sang Putri. Sejak pertama kali ia lewat di depanku dan secara tak sengaja menatap mataku ketika karnaval tahun lalu, aku sudah jatuh cinta padanya. Hamba hanya memikirkan betapa sedihnya beliau tidak dapat memandang hamba kembali. Saya telah mempelajari mantra tadi selama setahun ini dan mencobakannya kepada para pengemis buta. Karena berhasil, hamba ingin menyembuhkan Tuan Putri. Hamba hanya ingin, Putri Cordelia memandang mataku lagi…” kata Penyihir Daniel sambil menatap Putri Cordelia.

Mereka saling memandang. Tanpa sadar, Putri Cordelia berjalan menghampiri Penyihir Daniel, meraih tangannya dan membantu penyihir muda itu berdiri.
“Kaulah yang selama ini aku impikan….”
Mereka berdua berpelukan.

Luluhlah hati Raja dan Ratu Northallington melihat putri mereka menemukan mimpinya, meskipun ia merupakan seorang penyihir lancang.
“Daniel, kemarilah,” perintah Ratu Northallington.
Penyihir Daniel melepaskan pelukannya dan berlutut di hadapan singgasana.
“Apa kau bersedia untuk melepaskan tongkatmu dan mematahkannya?” tanya Ratu Northallington.
“Apapun hukum yang anda perintahkan saya untuk melakukannya, saya bersedia.”
“Apakah kau bersedia untuk tidak pernah melakukan sihir lagi untuk selama-lamanya?”
“Ya, saya bersedia.”
“Dan satu hal lagi,” kata Ratu Northallington. “Apa kau bersedia setia kepada putriku sampai mati?”
Penyihir Daniel dan Putri Cordelia tercengang mendengar pertanyaan terakhir.
“Saya akan mematahkan tongkat saya, tidak melakukan sihir selama seumur hidup, apapun akan saya lakukan untuk dapat setia kepada Putri Cordelia, selama-lamanya.”
Penyihir Daniel mengatakannya sambil mematahkan tongkatnya menjadi dua. Tongkat itu terbakar, lalu menghilang.

“Baiklah,” kata Raja Northallington. “Kau dibebaskan dari hukuman, dan akan segera kita adakan pertunanganmu dengan putriku. Dan terima kasih yang amat sangat, karena kau telah menyembuhkan putriku.
“Dan tidak boleh lagi ada penindasan kepada Para Penyihir. Mereka diperbolehkan masuk istana,” kata Raja Northallington, memberikan keputusan terakhir.

Seluruh rakyat bahagia mendengar keputusan Sang Raja.Tak ada lagi diskriminasi bagi para penyihir. Mereka dapat hidup berdampingan dengan baik.

Setahun kemudian dilangsungkan pernikahan antara Putri Cordelia dan Pangeran Penyihir Daniel, yang telah menyembuhkannya dari kebutaan selama 17 tahun. Mereka berdua memerintah Kerajaan Northallington dengan baik. Pada masa itulah penyihir dan manusia hidup berdampingan dalam kedamaian, selama-lamanya.

Minggu, 25 November 2012

Si Cantik dan Si Buruk Rupa

Pada suatu masa, hiduplah seorang saudagar kaya. Ia mempunyai seorang istri dan 3 orang anak. Seperti layaknya saudagar pada umumnya, ada masa ketika saudagar itu kaya raya, ada masa sulit ketika saudagar itu mengalami keadaan "lebih besar pasak daripada tiang." Yang menyedihkan adalah, ketika si saudagar itu sedang bangkrut, istri yang paling dicintainya meninggal dunia...

Lewat masa berkabung, saudagar itu bertekad untuk membawa kembali keluarganya menjadi kaya raya seperti dulu, walaupun sang istri telah meninggal dunia... Ia pun pamit kepada ketiga putrinya untuk melakukan perjalanan ke Timur Jauh untuk berdagang di sana.

Anak pertama berkata, "Ayah, tolong belikan aku sutra dari Timur Jauh. Aku sudah lama ingin gaun yang terbuat dari sutra terbaik yang dimiliki Timur Jauh."

Si saudagar menjawab, "Tentu saja, sayangku. Doakan saja semoga ayahmu ini sukses dan bisa kembali membawakan sutra itu kepadamu."

Anak kedua berkata, "Ayah, tolong belikan aku sepatu kayu dari Timur Jauh. Aku sudah lama ingin sepatu kayu dari kayu terbaik yang dimiliki Timur Jauh."

Si saudagar menjawab, "Tentu saja, sayangku. Doakan saja semoga ayahmu ini sukses dan bisa kembali membawakan sepatu kayu itu kepadamu."

Si kecil bungsu dengan lugunya berkata kepada ayahnya, "Ayah, ayahku sayang, hanya satu yang kuinginkan: ayah cepat pulang dari Timur Jauh..."

Si saudagar tersenyum dan memeluk putrinya yang paling kecil itu, "Aduh, anakku sayang... Ayah belum pergi kok kamu sudah minta ayah pulang?" :) "Kamu mau oleh-oleh apa, nak? Katakan saja..."
"Hmm... Baiklah... Aku mau mawar putih saja untuk oleh-oleh, ayah..."
Mendengar permintaan putri kecilnya itu, terharulah si saudagar dan berjanji, "Tentu saja! Aku akan bawakan mawar putih terbaik untukmu, sayangku!"

Sepuluh tahun pun berlalu. Si saudagar sudah amat rindu kepada putri-putri kesayangannya, dan sudah bosan hidup di Timur Jauh. Ia pun tak lupa membeli sutra merah jambu dan sepatu kayu untuk para kakak-kakak.

Setelah turun dari kapal, si saudagar harus melanjutkan perjalanan dengan kuda untuk pulang ke rumah. Hari sudah petang. Ia melewati suatu hutan yang amat lebat dengan tergesa-gesa. Si saudagar ini sebenarnya agak takut dengan gelap.

Di tengah perjalanan, si saudagar melihat ada serumpun mawar putih yang indah. Melihat rerumpunan itu, si saudagar langsung ingat dengan janjinya dengan si putri kecil. Ia pun turun dari kudanya dan memetik satu bunga mawar putih.

“SIAPA ITU?!” terdengar suara yang amat keras. “BERANI-BERANINYA KAU MENCURI MAWAR PUTIHKU!”

Tiba-tiba di balik rerumpunan itu, menyalalah suatu istana megah. Takut lah si saudagar kaya.

“HEY! JAWAB AKU! SIAPA KAMU?!”

“S-saya hanyalah orangtua yang sedang dalam perjalanan pulang, tuan…”

“Hmm… Kemana kamu akan pulang?” tanya suara misterius itu.

“Ke rumah terdekat dari hutan ini, tuan…”

“Well, masuklah ke dalam istanaku. Makan lah. Baru setelah itu aku putuskan nasibmu.”

Takut-takut, si saudagar membawa masuk kudanya ke padang rumput istana itu. Kuda itu segera makan rumput segar yang ada di situ, dan meringkik-ringkik kegirangan. Saudagar itu tersenyum, lalu menalikan si kuda ke pohon terdekat.
Pintu masuk istana itu dibukakan oleh… sebuah poci teh.

“Selamat sore, tuan!” sapa si Poci Kecil. “Tuan saya menyuruh saya untuk menjamu anda malam ini. Silahkan masuk!”

Terheran-heran tapi senang, si saudagar masuk ke dalam istana.

Istana yang megah dan menyilaukan itu ternyata adalah suatu tempat yang amat nyaman. Lukisan-lukisan yang menempel di dinding bisa tersenyum, berbicara, dan menyambut tamu yang datang. Semua benda-benda mati ternyata hidup dan melayani si saudagar dengan jamuan makanan yang luar biasa nikmat.

Setelah si saudagar puas makan dan minum, suara besar menakutkan itu kembali berkata:

“Hey kau. Sudah selesai makanmu kah?”

“S-sudah, Tuan…” jawab si saudagar takut-takut.

Tiba-tiba terbukalah pintu ruang makan, dan keluarlah sesosok makhluk yang buruk rupa. Saudagar sampai terjungkal dari kursinya karena melihat ke-buruk-rupa-an dari makhluk tersebut.

“Nah. Kau Saudagar Tua, hendak kemana kau pulang?”

“S-seperti yang sudah saya bilang, Tuan. Saya hendak pulang ke rumah saya. Saya sedang separuh perjalanan, lalu melihat mawar putih milik Tuan yang indah. Saya jadi teringat dengan putri kecil saya di rumah yang ingin oleh-oleh mawar putih…”

“Hmh, tapi kau tidak perlu mencurinya dariku, kan?!”

“Maaf, Tuan, saya pikir mawar putih itu tumbuh begitu saja di hutan ini…”

“Mana mungkin, Saudagar Bodoh! Mawar putih sebagus itu pasti dirawat! Dasar Saudagar Yang Tidak Punya Otak!”

“Ampun, Tuan… Sekarang saya harus bagaimana?”

“Mudah saja. Pulang ke rumahmu, bawa putri kecilmu yang ingin mawar putih itu ke istana ini. Katakan padanya bahwa hidupnya di sini akan mudah. Kau sudah merasakan bagaimana mudahnya hidup di istana ini, bukan?” ;) “Kalau kamu tidak mau, kamu akan kubunuh!” ancam si Buruk Rupa.

“Dasar makhluk Buruk Rupa kurang ajar!” pikir si saudagar. “Berani-beraninya ia mengambil putriku!”

Dengan penuh penyesalan atas kesalahan kecil yang telah ia perbuat, si saudagar itu mengangguk, membungkuk, dan pergi pulang.

Sesampainya di rumah, si saudagar memeluk semua putri-putrinya dan memberikan mereka oleh-oleh yang mereka minta: sutra dari Timur Jauh untuk kakak pertama, sepatu kayu dari Timur Jauh untuk kakak kedua, dan mawar putih yang harum dan bersih untuk si putri bungsu.

Mereka berempat bersenda-gurau seharian, saling menceritakan apa yang telah terjadi selama sepuluh tahun ketika mereka, bapak dan anak-anak perempuannya hidup terpisah. Putri-putri yang selalu masih kecil di mata ayah mereka itu tidak tahu bahwa si ayah sedang memikirkan perkara yang sangat pelik…

Setelah makan malam, para kakak kembali ke kamar mereka masing-masing. Kakak pertama mulai menjahit gaun sutra pertamanya dengan senang hati. Kakak kedua mencoba-coba sepatu barunya dengan gaun-gaun yang telah ia miliki. Mereka asyik di kamar masing-masing, meninggalkan si bungsu dengan ayahnya di ruang makan.

“Nak, sebetulnya aku ingin menceritakan sesuatu padamu, tapi aku belum siap mengatakan hal ini di depan kakak-kakakmu,” si saudagar mulai berbicara.

“Katakan saja, Ayah!”

Dan berceritalah si saudagar tentang kebodohannya, kenaifannya dan kesanggupannya atas konsekuensi segala perbuatannya itu.

“Ayah, ayah tenang saja… Aku akan ke istana itu. Ayo kita berangkat sekarang,” kata si putri kecil.
Sambil memeluk putri kecilnya, si saudagar tersedu-sedu, “Maafkan ayah, Nak. Maafkan ayahmu yang bodoh ini…”

“Tidak apa-apa, Ayah. Tidak apa-apa… Ayo kita pamit kepada kakak-kakak.”

Para kakak pun juga terkejut dan menangisi kepergian adik kecil mereka. Mereka juga menyalahkan Sang Ayah, tapi mau bagaimanapun juga, ini semua berawal dari permintaan si putri kecil. Jadi yang bisa para kakak lakukan hanya memeluk dan menangisi adik mereka….

Sesampainya di istana Buruk Rupa, si putri kecil dipersilahkan masuk oleh Poci Kecil. Poci Kecil itu berkata, “Silahkan masuk Putri Kecil! Tapi anda tidak dibolehkan ikut masuk oleh Tuan, Saudagar Kaya…. Maaf sekali.”

“Tidak apa-apa, Poci Kecil. Bilang pada tuanmu supaya memperlakukan putriku dengan baik. Sayangku, aku pulang dulu, jaga dirimu…” kata si saudagar sambil memeluk putrinya.

Putri Kecil segera terpesona dengan keindahan istana itu. Ia menyapa semua lukisan, terbahak-bahak melihat tingkah lucu benda-benda yang hidup, dan terkagum-kagum melihat padang rumput istana itu yang luasnya luar biasa.

“Senang dengan pemandangannya, Nona?” si Buruk Rupa tiba-tiba muncul dari balik punggung si putri kecil.

“E-eh eh… Ya Tuan, istana anda indah sekali,” kata si putri kecil takut-takut sambil membungkuk hormat.”

“Hahahaha, tak usah terbungkuk-bungkuk begitu… Anggap saja ini rumahmu sendiri. Ayo, makan malam bersamaku.”

Di luar dugaan si putri kecil, Buruk Rupa orangnya humoris sekali. Ia dapat membuat si putri kecil tertawa tergelak-gelak atas banyolannya tentang pelayan-pelayannya, benda-benda yang hidup. Si Poci Kecil berinisiatif untuk memutarkan musik bagi Tuan dan Nona barunya. Dengan si Sendok, Panci, Gelas, dan Piring, mereka bersama-sama membangun orkestra kecil yang indah sekali.
Buruk Rupa dan putri kecil pun berdansa setelah makan malam. Berputar-putar sambil mengobrol dan tertawa.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, si Buruk Rupa meminta hal yang tak terduga:

“Nona, maukah kau mencium bibirku?”

Segera si putri kecil melepaskan dirinya dari pelukan si Buruk Rupa, lalu marah-marah.

“Buruk Rupa! Kamu boleh memisahkanku lagi dari ayahku setelah sepuluh tahun kami tidak bertemu! Kamu boleh mengajakku tinggal bersamamu di istana ini! Kamu boleh memberiku makan! Kamu boleh mengajakku berdansa! Kamu boleh tertawa bersamaku! Tapi tidak akan, sekali lagi, TIDAK AKAN PERNAH aku menciummu!” :@

Masih memasang muka cemberut, si putri kecil pergi ke arah teras dan memandangi padang rumput hijau istana Buruk Rupa.

“Nona….” -..- “Kalau kamu tidak menginginkan sesuatu terjadi, tidak perlu marah-marah seperti itu. Sudah, sana ke kamarmu… Poci Kecil akan mengantarmu sampai kamarmu.”

Dan begitulah seterusnya, berulang-ulang rutinitas setiap malam di istana Buruk Rupa. Makan malam—tertawa-tawa—dansa-dansa—Buruk Rupa meminta si putri kecil untuk mencium bibirnya—putri kecil marah-marah—si Buruk Rupa sok menasehati—lalu mereka pergi tidur. Saya juga heran…

Lama-lama si putri kecil bosan tinggal di istana dengan rutinitas-rutinitas begitu saja. Apalagi kalau siang hari si Buruk Rupa pergi berburu ke hutan selama berjam-jam. Si putri kecil biasanya membaca di perpustakaan istana, atau belajar menenun sambil mengobrol dengan si Poci Kecil.

Suatu malam, setelah pertengkaran yang itu-itu saja, si Putri Kecil pergi ke kamarnya, mengganti gaunnya dengan piama, lalu menyisir rambutnya.

“Arrrrgggghhhh! Aku ingin pulang!” teriak si putri kecil kepada cerminnya.

“Kamu ingin pulang?” tiba-tiba ada suara perempuan yang bening dan mirip dengan suara si putri kecil.

“Hah?! Siapa itu?”

“Lihat ke cermin, Nona. Ini aku, si Cermin. Aku mirip denganmu karena setiap hari aku menirumu. Tapi aku bisa berubah bentuk menjadi sesuatu yang lain kalau engkau mau…”

Si putri kecil melihat cerminnya, lalu ia melihat dirinya sendiri sedang duduk dan tersenyum padanya.

“Ohh… Ternyata kamu juga bisa berbicara, ya Cermin? Well, iya…. Aku bosan berantem terus sama si Buruk Rupa tentang hal yang sama. Padahal sebetulnya si Buruk Rupa itu orangnya sangat baik… Aku ingin ketemu Ayah dan kakak-kakakku lagi…”

“Hmm… aku memang tidak bisa mengantarmu pulang. Tapi aku bisa lho memberimu penglihatan atas apa yang terjadi pada Ayah dan Kakak-kakakmu.”

“Ohya? Mana-mana?” :D

Dan terlihatlah dari dalam cermin, si saudagar sedang terbaring sakit, sambil ditangisi oleh kakak-kakaknya yang memijat dan memberi obat.

Saudagar itu berkata, “Putri Kecil…. Yang aku butuhkan supaya sembuh dari sakit ini hanya si Putri Kecil…”

Segera setelah mengetahui kebenaran dari si Cermin, Putri Kecil segera menemui si Buruk Rupa dan meminta izin untuk pulang ke rumah. Awalnya Buruk Rupa menolak mentah-mentah, namun setelah mendengar seluruh cerita si Putri Kecil, ia pun memperbolehkan si Putri Kecil untuk pulang.

Dengan segera, Putri Kecil berkuda ke rumahnya. Sesampainya di rumah, si Saudagar langsung memeluk putrinya dan berkata, “Sudah-sudah… Jangan pernah lagi kembali ke istana itu. Aku di sini menderita tanpamu, Putri Kecil-ku…”

“Tentu saja! Dengan senang hati, Ayah!”

Selama 3 minggu lamanya, si Putri Kecil tidak kembali ke istana si Buruk Rupa. Si Saudagar bahagia dikelilingi oleh putri-putrinya. Tapi semua itu akhirnya berakhir, ketika pada suatu malam, si Putri Kecil didatangi si Cermin.

“Psst! Nona!” seru si Cermin yang datang di kamar si Putri Kecil. Putri Kecil yang sedang bersiap-siap tidur pun segera terbangun oleh suara si Cermin.

“Lho, Cermin?! Bagaimana kamu bisa ada di sini?”

“Aku dapat hadir dimana pun kau bisa memantul, Nona. Tapi yang paling penting, kedatanganku di sini adalah ingin memberitahumu bahwa Tuan sedang sakit!”

“Buruk Rupa? Sakit? Apa yang sudah ia makan sehingga ia bisa sakit?” ._.

“Bukan karena makanan, Nona… Tapi karena ia kesepian. Ia rindu padamu.”

Si Cermin pun memantulkan gambar si Buruk Rupa yang sedang terbaring di lantai istana. Wajahnya menampilkan derita kesakitan yang amat sangat.

Merasa iba, Putri Kecil meminta izin kepada ayahnya untuk kembali ke istana si Buruk Rupa.

“Boleh saja, anakku. Tapi apakah nanti kau akan kembali?”

“Aku tidak tahu ayah. Kita berdoa saja, supaya nanti aku dibolehkan kembali ke sini oleh si Buruk Rupa.”

“Pergilah, Nak. Aku akan berdoa supaya engkau boleh kembali lagi.”

Lalu pergilah lagi si Putri Kecil ke istana si Buruk Rupa. Ia langsung menuju lantai tempat si Buruk Rupa berbaring kesakitan.

“Buruk Rupa, Buruk Rupa! Bangunlah! Sadar! Buka matamu!”

“Apa aku sudah ada di surga?”

*buruk rupa yang bodoh* -___-
“Tidak, Buruk Rupa, aku ini, si Putri Kecil. Ayo buka matamu…”

Masih merasakan sakit itu, si Buruk Rupa mencoba membuka matanya, namun tidak bisa…

Melihat penderitaan si Buruk Rupa, Putri Kecil tanpa sadar mencium bibir si Buruk Rupa.

Segera setelah itu, si Poci Kecil, Gelas, Piring, Cermin, dan teman-temannya berubah menjadi manusia.

Dan si Buruk Rupa menjadi Pangeran Tampan.

Dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.