Senin, 04 April 2011

Mulailah dengan Mimpi (Studi Banding Vlodz dengan Swaragama FM)

VLodZ crew mejeng nih. Hehehe.. ;"p







Vlodz Crew 6th Generation







DJ Vlodz + DJ Swaragama. :"D










(Sebelumnya diz mohon maaf kalo bahasanya formal banget, soalnya ini buat arsip sekolah. ^^)


Pada hari Kamis tanggal 10 Maret 2011 yang lalu, sepulang sekolah anak-anak anggota crew Vlodz segera naik bus carteran menuju Yogyakarta. Memang pada hari itu Van Lith mengadakan acara studi banding Jurnalistik Van Lith (JVL) dan Vlodz ke Kompas Jawa Tengah untuk JVL dan Swaragama FM untuk Vlodz. Tujuan acara ini supaya anak-anak yang tergabung dalam JVL dan Vlodz dapat mengetahui bagaimana mengelola majalah dan radio secara profesional.

Kebetulan saya sebagai penyiar (sebutan kerennya, DJ) Vlodz ikut studi banding ke Swaragama FM. Sebetulnya saya juga diberi kesempatan untuk ke Kompas Jawa Tengah, karena saya juga adalah seorang reporter Nimzo yang tergabung dalam JVL. Namun, saya lebih tertarik dengan dunia radio dibandingkan dengan dunia media cetak, maka saya ikut dengan crew Vlodz ke Swaragama FM.

Karena ada beberapa crew Vlodz yang merangkap JVL seperti saya, maka tidak semua anggota crew Vlodz ikut ke Swaragama, seperti Vania, Judith dan Norma, yang lebih tertarik untuk ke kantor Kompas Jawa Tengah. Saya tidak menyesali keputusan saya ini, karena ternyata kunjungan ke Swaragama FM ini menyenangkan sekali.

Sesampai di kantor Swaragama FM, kami dipersilahkan menempati suatu ruang pertemuan. Di sana kami diberi minum dan dibagikan majalah My Magz, gratis. Kemudian kami mengetahui bahwa My Magz merupakan majalah yang masih merupakan proyek sampingan dari Swaragama FM.

Selanjutnya kami tidak diberikan presentasi macam-macam. Kami pertama-tama dikenalkan oleh para narasumber. Narasumber kami yang pertama adalah seorang Manager Production Director Swaragama FM, kami memanggilnya Mas Boma. Ada juga Mbak Ayu, salah satu DJ Swaragam FM, lalu Mas Deka yang ternyata Editor in Chief majalah My Magz yang saat itu sedang kami pegang.

“Daripada kami menguliahi kalian bagaimana Swaragama, lebih baik langsung saja kita tanya jawab. Tanya apa aja boleh, kalau bisa kami pasti langsung jawab,” kata Mas Boma waktu itu. Maka kami langsung saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar Swaragama, dan pengelolaan radio.

Dari hasil tanya jawab itu kami mendapatkan wawasan bahwa suatu siaran yang baik harus direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Setiap selesai siaran, penting juga untuk evaluasi, agar ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi. Perlu juga mempromosikan suatu acara dan mempersiapkan teknis acara itu dengan maksimal, supaya hasilnya maksimal pula. Untuk kebutuhan promosi itulah, My Magz dibuat oleh Swaragama, yang ternyata juga sering memuat profil penyiar dan ulasan program-program di Swaragama FM.

Lalu Medi, salah satu Music director Vlodz menanyakan lagu-lagu apa yang sekarang digandrungi orang banyak. Ternyata, lagu-lagu yang sering di-request oleh pendengar Swaragama FM 70% merupakan lagu-lagu Indonesia. Meskipun para narasumber kami berpendapat bahwa musik Indonesia masih butuh banyak perkembangan dan perbaikan, namun kenyataannya masyarakat lebih menyukai lagu-lagu Indonesia.

“Kalau selera pendengar kami memang seperti itu. Nah, permasalahannya apa pendengar kami sama seperti pendengar kalian? Tentu anak Van Lith selera musiknya mungkin beda, dong. Yang tahu ya kalian sendiri anak Van Lith. Maka kalian sebagai radio harus menjalin komunikasi yang baik dengan pendengar kalian. Acara request itu ya gunanya supaya kami tahu selera musik pendengar kami dan kami dapat membuat chart,” cerita Mbak Ayu sambil memberi saran. Narasumber kami juga memberi saran untuk menyesuaikan lagu dengan waktu siaran. Misalnya kalau pagi, putarlah lagu pembangkit semangat, atau yang slow untuk menambah kenyamanan suasana pagi.

“Kalau siang juga dianjurkan lagunya yang slow untuk menemani orang-orang yang sudah mulai kelelahan bekerja atau bersekolah dan kelaparan. Kalau kita ngasih lagu-lagu rock, bisa-bisa emosi mereka, channel kita diganti deh,” kata Mas Boma.

Saya juga sempat bertanya kepada Mbak Ayu, penyiar senior Swaragama. Saya waktu itu menanyakan bagaimana menjadi penyiar yang menarik dan disukai.

Mbak Ayu mengatakan bahwa menjadi penyiar itu sebaiknya santai, supaya pendengar tidak terbawa emosi oleh suara si Penyiar. Suara penyiar juga diusahakan untuk enak didengar. Penyiar juga membawakan acara harus sesuai dengan bahan siaran. Jangan pertamanya mebicarakan tempat makan, lalu melenceng menjadi membicarakan politik. Itu tidak baik dan pendengar akan bingung dibuatnya. Penyiar yang menarik itu juga biasanya penyiar-penyiar yang jago melucu, sehingga membuat suasana menjadi segar.

“Kalau kamu nyantai membawakan acara kamu, maka nanti kamu akan terbawa sendiri sampai bisa membawakan acara kamu dengan asyik dan nyambung sama para pendengar. Mungkin ada beberapa orang yang gak suka sama siaran kamu, tapi selama masih ada 2/3 dari para pendengar yang suka sama siaranmu, minimal bilang kalau siaran kamu bagus, itu udah oke kok. Santai saja, karena memang tidak semua orang, tidak semua konsumen bisa dipuaskan,” kata Mas Deka yang ternyata dulu juga salah satu DJ di Swaragama FM memberi saran dan nasihat.

Lucky sang Producer menanyakan sebetulnya apa saja yang bisa dijadikan bahan siaran. Para narasumber memberitahu kami kalau para pendengar senang apabila bisa dilibatkan dalam siaran. Maka kami dianjurkan membuat program-program yang bisa berinteraksi dengan para pendengar. Misalnya games, wawancara, request dan sebagainya.

Demikianlah kira-kira hasil tanya jawab kami dengan Swaragama FM. Interaktif dan mengasyikan, sehingga cukup lama juga kami bertanya jawab, sekitar satu jam. Setelah itu kami dibawa tur keliling Swaragama. Kami melihat sendiri proses pembuatan iklan radio, dan juga melihat acara Sunset Drive yang hari itu sedang berlangsung. Dalam acara itu, Rino dan Medi sempat berbicara on-air, disiarkan langsung oleh Swaragama. Ternyata, acara Sunset Drive yang dipandu Fania Zetira dan Teddy Muslich itu diulas dalam majalah My Magz yang saat itu sedang kami pegang. Kami juga sempat berfoto-foto dengan Fania Zetira dan Teddy Muslich.

Setelah berkeliling-keliling, kami kembali ke ruang pertemuan. Di ruang pertemuan kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak Swaragama yang telah bermurah hati mengizinkan kami belajar macam-macam dari mereka. Kami memberikan piagam Van Lith sebagai kenang-kenangan. Lalu, ternyata ada kejutan menyenangkan buat Vlodz. Kami diberi oleh Swaragama FM 10 keping CD album musik, beserta bocoran chart musik dalam dan luar negeri yang sungguh berguna buat referensi kami. Mereka memang luar biasa murah hati. Kami jadi ingin membawa Vlodz menjadi seperti Swaragama FM.

“Kalian kalau mau usaha pasti bisa. Swaragama juga awalnya radio kuliah mirip-mirip kalian kok. Swaragama bisa menjadi besar seperti ini juga awalnya sebuah mimpi. Memang sulit perizinannya segala macem buat mewujudkannya, tapi kalau kalian mau dan ada usaha, pasti kalian bisa. Nanti kami bantu dengan doa. Hehehe,” kata Mas Boma ketika Rino mengutarakan impian kami ini.

Setelah ber-sayonara, kami pun akhirnya kembali naik bus, pulang ke Muntilan. Sungguh, meskipun hanya beberapa jam, kami merasa sudah belajar banyak sekali dari Swaragama FM. Saya berharap semoga dengan wawasan kami yang bertambah ini dapat membuat kami semakin baik dalam menjalankan Vlodz. Memang masih sebuah mimpi untuk mewujudkan Vlodz menjadi sebanding dengan Swaragama FM, namun semoga mimpi yang baru dimulai ini dapat diwujudkan di kemudian hari. (Dee)


Apa kata mereka tentang Studi Banding Vlodz ke Swaragama FM?


Seneng banget karena sebetulnya sebagai producer radio, aku jarang dengerin radio, dulunya gak gitu ngerti tentang radio. Tahu-tahu dapet kesempatan kayak gini, dapet pengetahuan banyak tentang radio. Aku jadi berangan-angan buat ngebikin Vlodz jadi kayak mereka (Swaragama-red).
Lucky XIA2, Producer Vlodz

Acaranya lancar dan menyenangkan.
Carina X-5, Creative Team Vlodz

Bikin kita jadi lebih mengerti mau dikemanakan Vlodz ke depannya, orang lain jadi lebih mengerti Vlodz, komunikasi dengan pendengar jadi lebih terjalin.
Ronny Barus X-4, Executive Manager Vlodz





Sabtu, 26 Maret 2011

Retret Kesadaran dan Keterlibatan Sosial

Ini adalah salah satu kegiatan tahunan di Van Lith Muntilan Senior High School and Dormitory. Kegiatan yang disingkat RKKS ini membuat siswa-siswi Van Lith terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang dianggap remeh masyarakat. Misalnya pelayan, pemulung, buruh, kuli, dsb. Kami juga tinggal di rumah para pelayan/pemulung/ buruh/ kuli itu, jadi langsung merasakan bagaimana hidup sebagai mereka.


Err, biar jelas, RKKS bisa dibilang nama lain dari Live-In. ^^


Lanjut. Jadi, waktu itu diz diberitahu kalo diz ditempatkan di SOLO. Ya oloh, sumpah, saya gak punya sodara/siapa2 di solo, mampir juga gak pernah, cuma sekedar lewat juga enggak! Langsung deg2an ngebayangin nasib saya di sana. Tapi ya diz nyantai aja lah. Kalo dibawa pikiran ntar pusing sendiri.


Kami naik bus rame2 ke Solo. Sampai di Solo hari Minggu jam 11-an siang. Kami turun di terminal Tirtonadi, lalu dijemput mas2 PAVALI buat ke Wisma Mahasiswa Solo. (FYI: PAVALI singkatan dari Paguyuban Van Lith, isinya alumni2 Van Lith. Gak cuma sekedar buat kumpul kangen, tapi juga bergerak dalam bidang sosial. Misalnya nih usaha recovery daerah2 yang kena bencana merapi kemaren. Yang bikin posko merapi di sekolah dulu juga PAVALI, lho. PAVALI juga bantuin sekolah buat bikin acara kayak RKKS ini. Btw, saya udah gak sabar jadi PAVALI! Ayo dong Tuhan, cepetan lulus.... >,<)

Oya, kami juga ketemu sama Pak Baluk ama Sr. Ariati, Pendamping di Solo. Tiap kota emang ada satu Pendamping yang ngawasin. Kota2 tempat RKKS itu ada Magelang, Yogya, Semarang dan Solo. (FYI: guru2 di Van Lith disebut "Pendamping". Jadi kami belajar "didampingi" bukan "digurui". ;"p)


Terus di Wisma Mahasiswa kami istirahat, abis itu briefing. Ada 31 anak Van Lith yang live-in di Solo. Cewek2nya klo saya gak salah ada saya, Tala, Vero, Imel, Sari, Tika, Ridha, Wenita, Asih, Lisa, dan Bela. Cowok2nya saya lupa. Maklum, populasi cowok di Van Lith emang berlebih. Saya ingetnya cuma beberapa yang "bernasib sial" aja...


Contohnya Pedro. Waktu istirahat ada mas2 PAVALI nggeletakin kertas pembagian kerjaan gitu aja. Nah, si Pedro ini ngintip. Ternyata dia jadi penjual jamu keliling. Dia udah seneng tuh dapet kerjaan yang radha mending. Tapi pas briefing, ternyata kerjaannya diganti jadi Pemulung.


Jadi kawan, gak usahlah ngintip hal2 yang bukan hak anda.


Terus ada juga temenku si Chandra. Dia jadi penjaga malam di GOR nemenin satpan yang udah ada di sana. Nah, dia tuh udah dipesenin buat hati2, jangan ampe ngagetin bapaknya yang kayaknya punya penyakit jantung.


Bayangin waktu Chandra jaga malem2, terus "ada yang lewat", terus dia kaget, terus ngangetin bapaknya. Bisa berabe.


Untungnya, itu gak terjadi. ;"p


Dan saya?

Saya jadi pelayan warung makan. Ibu di tempat saya live-in baik banget dah sumpah. Saya jadi terharu.


Tapi ya.. ternyata capek juga bolak-balik beresin meja, nyuci piring segunung... @.@


Moga2 kerjaan kayak gini, suatu saat lebih dihargai kayak di negara2 lain yang ngehargain banget kerja tangan.


Oya temen2, klo makan di restoran, warung makan, maupun di rumah dihabisin ya makanannya. Saya sakit ati sendiri ngebuang makanan2 sisa. Sayang! Mari kita bersyukur masih bisa makan dengan menghargai dan menghabiskan makanan. Masih banyak sesama kita di luar sana yang mati kelaparan, yang musti ngais2 sampah cuma buat makan.


Keep smiling, keep praying, and thank the Lord!


V,

dia...Z

Minggu, 13 Februari 2011

How I Love Books

Diz sangat2 suka baca buku. Terutama novel.

Semua berawal waktu sekitar tahun 2003/2004, Harry Potter lagi booming-boomingnya. Dan sebagai hadiah... apa ya? Ultah atau natal diz udah lupa, pokonya diz dikasih buku HP #1 - HP #4.Wah gak kebayang senengnya. Tapi begitu buka2, ah males ah. Namanya juga masih kelas 3 SD, masih males gitu deh. Terus diz buka HP #1 Harry Potter dan Batu Bertuah diz buka2 di tengah2, bab tentang Quidditch.

Diz waktu itu minta papa beliin HarPot (dan akhirnya dikabulkan) karena diz tertarik waktu Quidditch dibahas di majalah Bobo (btw, Bobo apa kabar ya sekarang? Udah gak pernah baca jadi kangen.). Trus, karena baca dari tengah, gak ngerti, aku buka depannya, gak ngerti lagi, buka depannya lagi, terus begitu ampe buka halaman pertama, lalu bukunya saya baca dengan normal. Sejak saat itu, saya belajar bahwa baca novel sebaiknya dari halaman pertama saja, dan saya tidak pernah baca novel dari tengah lagi. (Plok plok plok)

Well, akhirnya saya menyelesaikan keempat buku itu dari kelas 3 sampai kelas 4 SD. Terus kelas 5 HP #5 keluar dan saya dibelikan. Kemudian... diz mengidap HP-addict.

Sumpah. Diz pernah kecanduan Harry Potter. Can't live a day without Harry potter dah. Tiap hari pulang sekolah bukannya makan siang & maen kayak anak2 kebanyakan , kerjaan saya baca HP. Makan baca HP, belajar diselingi baca HP, sebelum tidur baca HP, waktu HP #5 udah kelar, baca HP-HP sebelumnya. Wah sumpah, kalau inget waktu itu, kok bisa ya? Pikiranku cuma dipenuhi Harry Potter dan teman2nya.

Diz mengalami Harry Potter-addict ini ampe awal kelas 6 SD. Untung ortunya diz merhatiin kok prestasi diz turun, gak kayak dulu. Trus akhrinya diz gak dibolehin baca buku2 HarPot dulu. Buku2 HP yang diz punya diumpetin ama Bapak-Ibunya diz.Wah, guys, sumpah, waktu itu diz nangis. Rasanya sama kayak ditinggal pacar karena ortu gk ngebolehin.Padahal waktu itu diz udah nyoba2 pacaran, tapi rasanya lebih sakit daripada waktu diz putus sama pacar! (Ya iya lah, namanya juga pacaran anak SD, bego lu diz!) (oh iya ya...)

Ya begitulah. Meskipun demikian, ortu diz emang bijaksana banget (Love you mom! Love You dad!), kalo diz gak dilarang baca HarPot, mungkin diz dulu gak lulus SD. Diz dituntut buat belajar lebih keras, trus diz lulus SD deh. Bagus lagi, nilai2nya. Diz klo gak salah dapet ranking 8 seangkatan waktu itu. (Bangga nih, hehehe)

Diz dikenalin sama buku2 pengganti HarPot buat bacaan diz. Diz dikenalin ama mama karya2 Nh. Dini, kayak Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, dan Langit dan Bumi Sahabat Kami. Trus buku2 Lima Sekawan & Malory Towers karangan Enid Blyton. Buku2 Kumpulan Cerpen Bobo juga suka diz baca. Semua buku-buku itu kisahnya jauh dari fantasi, karena ortu diz gak pengen diz berimajinasi berlebihan gitu deh.

Menginjak SMP, Bacaan diz meluas lagi jadi karangan2 Agatha Christie dan R. L. Stine (I love horror book but film, FYI), juga Karl May, Wennitou-nya diz suka. Teenlit2 gitu diz juga suka baca. Waktu Twilight booming diz juga ikut baca (dan akhirnya diz lebih suka Twilight daripada Harry Potter!). Lalu diz jadi sadar sendiri ada buku2 bagus lain selain Harry Potter. ^^

Diz selama itu gak pernah ngelupain Harry Potter. Diz masih inget sama alur ceritanya, beberapa detil2nya, dan masih suka sama ceritanya yang emang bagus. Waktu HP #6 & HP #7 keluar, diz waktu itu cuma bisa manyun soalnya belum boleh baca ama ortu. Tapi diz nurut aja. Sampe akhirnya diz masuk Van Lith School and Dorm ini.

DI perpus van lith ada buku HP #6 & HP #7. Waktu masuk perpus pertama kali kelas X, diz masih takut buat lanjutin baca Harry Potter. Diz minjem buku2 bacaan lainnya kayak Narnia dan Teenlit2. Trus diz bosen karena udah baca semua teenlit di perpus (lebay mode on), akhirnya diz ngelirik buku harry Potter. CLBK ceritanya.

Trus akhirnya diz minjem Harry Potter #6 dan #7.
Diz baca.

Dan Ternyata, meskipun dulu pernah kena HP-addict, hal itu gak kambuh lagi! Yey! Sekarang ng-fans biasa aja... :"D

yah begitulah, sekarang diz juga udah kelar baca The Host-nya Stephenie Meyer (bagus banget, mengaduk-aduk emosi). Diz juga masih suka teenlit2. Sekarang diz lagi seneng2nya baca karangan Dan Brown. Diz pernah gak tidur semalam suntuk gara2 keasyikan baca Digital Fortress! Dan Brown tuh seru, teka-teki dan wawasan di dalam bukunya unik dan gak biasa. tapi diz gak begitu seneng sama The Da Vinci Code. Kesannya buku itu ngejek Yesus Kristus Tuhannya diz, dan Katolik agamanya diz. :"(
Tapi gpp, itu kan karya orang, harus dihormati juga. Yang penting diz percaya apa yang diz percaya.

Keep reading, guys! :")

"You are what you read!" -Cresentiana Widi Astuti

V,
dia...Z

N.B.: Btw, buku2 Harry Potternya diz kemana ya? Masih 'diumpetin' (baca: disita) sama Mami-Papi. Apa kabar mereka ya?